Skip to main content

Posts

Familiarity Replaces Curiosity

There is a quiet shift that happens in relationships over time. The questions fade. The curiosity softens. The longer someone has known you, the less they seem to ask who you are. It is as if, at some point, they decided they already knew the answer. Ironically, it is often strangers who ask the questions that matter. They listen without the weight of history. They notice details that others overlook. In their unfamiliarity, they make space for who you are right now, not who you used to be. Familiarity can be comforting, but it can also be blinding. When someone thinks they already know you, they stop discovering . And without realizing it, they begin relating to a version of you that may no longer exist. Understanding someone is not about collecting facts from their past. It is not about memorizing their habits or predicting their reactions. It is about staying curious, to learn who they are becoming. Because people, I , change—quietly, constantly, and often invisibly. And to truly u...

Do ambitions only matter to you until you achieve them?

I've noticed this personally. Not that I've achieved all I aimed for in life by any means. But then, when I have achieved some things, they weren't so much something to be proud of. There were either things I still wasn't happy with, or they still weren't as good as they could have been, or as good as other people's achievements. Other people being pleased with the result would bring some relief but then, not totally. To an extent, it's been good to have this mindset. It meant there was never a sense of having accomplished enough, so there were then new things to strive for. On the other hand though, not experiencing much joy from achieving certain goals means it makes you question whether any other or higher goals are worth struggling towards. If none are going to bring satisfaction, why bother? I suppose because there was also a sense of failure if I didn't try at all. Plus, the practical danger that I may have to return to a menial job that I would ha...

Saya ingin itu… atau saya ingin orang lain tahu saya punya itu?

Tenang, ini bukan interogasi polisi. Ini hanya satu pertanyaan kecil yang mungkin diam-diam Anda pikirkan tiap kali buka toko online, lihat story orang, atau mikirin soal masa depan. Mari mulai dengan sesuatu yang sederhana. Bayangkan Anda akhirnya beli iPhone 17 Pro Max 2 TB Cosmic Orange yang sudah lama Anda incar. Yang Anda pikirkan mungkin adalah “Wah, enak nih buat kerja, render lebih kenceng, multitasking sat-set, rekam video gak takut habis memori, baterai awet, layar enak buat nonton.” “Ini kalau dipost di story pasti banyak yang reply: ‘anjay’, ‘spill dong harganya’, ‘gila naik kelas’, ‘boba tiga nih ye’.” Jawab dengan jujur, yang mana yang lebih dulu muncul? Ini bukan soal benar atau salah, tapi siapa sebenarnya yang sedang Anda layani? Diri Anda sendiri, atau “penonton” di luar sana? Kita geser ke hal yang lebih sensitif: pasangan . Mungkin Anda pernah (atau sedang) suka sama seseorang yang kalau jalan bareng dia, Anda bisa kebayang komentar orang “Gila, kok bisa sih dapetin...

Disagreement

Disagreement isn’t always easy to handle, it can feel uncomfortable or even upsetting. But I’ve learned it’s where the real work begins. The best meetings I’ve been in didn’t end with fast nods. They started moving when someone said, “I see it differently,” and we had to slow down, ask better questions, and sharpen the idea. History backs this up. For centuries, many people in Europe followed the Ptolemaic view: Earth at the center , everything else moving around it. It fit what the eye could see. In 1543, Nicolaus Copernicus put forward a controversial thought: the planets, including Earth, orbit the Sun. Decades later, Galileo Galilei pointed a new tool, the telescope, at the sky. He saw moons circling Jupiter and the phases of Venus. They were clues that supported a Sun-centered system. His support for this view sparked fierce debate. Tragically, he was tried and kept under house arrest! The cost was real. But the long-term result was a shift in how people looked at the world and wh...

Belonging Everywhere and Nowhere at Once

I'll never forget the moment it all began. After a lifetime spent within the familiar sprawl of Jabodetabek, I was finally venturing beyond it. I stood in line to check my bag, my mind buzzing, a part of me still questioning if any of it was real. Then the plane pulled up to the gate. Watching everyone rush to get on board, it finally felt real. Those first few moments are seared into my memory, every detail I can still see clearly. The flight from CGK to DTB was a blur. I spent the entire flight with my face pressed against the window, staring at a landscape that was completely foreign. Green hills spread under a cloudy sky, a striking contrast to everything I had ever known. Landscape near Silangit Airport I walked down the terminal, taking it all in. I couldn’t stop looking around. The air smelled different, and everyone was speaking a language I didn't know. Everything screamed, " You're not in Jakarta anymore." The rush of excitement was so intense it felt l...

Questions From a Worker Who Reads

Who built Thebes of the 7 gates?  In the books you will read the names of kings.  Did the kings haul up the lumps of rock?  And Babylon, many times demolished,  Who raised it up so many times?  In what houses of gold glittering Lima did its builders live?  Where, the evening that the Great Wall of China was finished, did the masons go? Great Rome is full of triumphal arches.  Who erected them?  Over whom did the Caesars triumph?  Had Byzantium, much praised in song, only palaces for its inhabitants?  Even in fabled Atlantis, the night that the ocean engulfed it,  The drowning still cried out for their slaves.  The young Alexander conquered India. Was he alone?  Caesar defeated the Gauls.  Did he not even have a cook with him?  Philip of Spain wept when his armada went down.  Was he the only one to weep?   Frederick the 2nd won the 7 Years War.  Who else won it?  Every page a victory....

Ngajarin orang

Give a man a fish and you feed him for a day; teach a man to fish and you feed him for a lifetime Pas awal masuk kuliah, ketemuan sama Kalkulus I. Awalnya b aja ye kan mirip matematika SMA, eh taunya lama-lama beuh ribet banget. Asli lebih susah Kalkulus I daripada Kalkulus II dan Kalkukus Lanjut. Kalkulus II sama Lanjut itu kan materinya bener-bener baru, jadi tipe soalnya gak yang mendalam banget, lebih ke aplikatif gitu deh. Kalau Kalkulus I kan udah dapet di SMA, jadi pas kuliah, materinya udah advanced gitu. Soal-soalnya teoritis banget, serasa anak FMIPA jadinya hadeh. Semester 1 sampe 2 gw masih ngerasain kuliah oflen. Setiap mau ujian (UTS, UAS, bahkan kadang kuis), mahasiswa itu nanti diajarin sama asisten kayak review materi atau latihan soal gitu (Ini sebenernya opsional si, terserah asitennya. Asisten gw aja yang rajin). Gw lupa sih siapa asisten Kalkulus I pas itu, tapi doi dari dept. metal atau mesin gitu. Kita belajar si ruang K.301, ruangannya kayak tempat kuliah luar ...

Miskinnya Bahasa Indonesia

Pernah gak sih kalian mau mengungkapkan sesuatu tapi rasanya gak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan perasaan atau ide dalam otak? Bukan salah lo kok, tapi ini salahnya Bahasa Indonesia HAHAHAHAHAHA. "Lah kok bisa salahnya Bahasa Indonesia?" Coba kita telisik berapa banyak daftar kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Berdasarkan sumber akurat dan terpercaya a.k.a Wikipedia, KBBI "hanya" ngelist ( see? This is what I mean ) 127.036 entri. Kalau dibandingin sama kamus Webster Bahasa Inggris sih kalah telak, 470.000 entri. Makanya acap kali orang Indonesia kalau ngomongin topik yang agak advanced tuh pasti dicampur sama beberapa kata Inggris. Sebenernya sih udah ada usaha buat memperkaya bahasa Indonesia, kayak menyerap, membuat kata baru, atau menghidupkan kembali kata-kata arkais. Tapi usaha gak kenceng. Alah bisa karena biasa. Seharusnya dari media massa kek dipaksakan untuk menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia biar terbiasa masyarakat dengernya. Zuzu...

Ambisi Zonasi

O, zonasi. Nama keren untuk kebijakan yang tidak keren. Tujuannya menyamaratakan kesempatan masyarakat untuk sekolah. Masyakarat yang rumahnya dekat dengan sekolah—bagaimana pun kemampuan akademik dan non-akademiknya—akan dipastikan dapat melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri. Lantas yang ga mampu beli rumah dekat sekolah bagaimana? Ya sekolah swasta yang artinya harus bayar lebih mahal. Peta olahan Muhammad Ihsanur  dari grup Facebook Info Depok Peta di atas menggambarkan radius rumah terjauh yang dapat diterima di SMA Negeri di Depok pada tahun 2019. Sekolah favorit seperti SMAN 1, 2, dan 3 Depok hanya dapat menerima siswa yang rumahnya berjarak kurang dari 1 km ditarik secara garis lurus dari sekolah. Nah, nasib warga-warga yang tinggal di luar lingkaran biru itu ya harus berjuang via kuota prestasi dan kuota zonasi+prestasi  (jarak rumah dan prestasi diperhitungkan) atau pasrah bayar sekolah swasta. Di Jawa Barat kuota prestasi hanya 5% dengan rincian 2,5% prestasi akad...

UI, U A A, DING DING PALALALA DING DING

L’Université d’Indonésie, notre université, la capitale du pays, blablablabla. Cuman bisa nerjemahin segitu doang wkwkwk. Btw, itu lagu Genderang UI  en fra nçais (80% yakin bener terjemahannya). Anak UI udah khatam lagu itu soalnya pas jadi maba wajib beut buat dihafalkan karena maba nanti bakal jadi padus pas wisudaan. Simbolis banget gak si? Jadi kayak regenerasi gitu, yang lama digantikan yang baru, dikumpulkan dalam satu tempat . Oiya, ini merupakan sebuah curcol dan  an appreciation post for myself karena udah diterima di UI! Isinya tentang pengalaman di masa awal diterima di FTUI. Ini post udah berdebu di draft soalnya males banget buat nulis beberapa bulan kebelakang. Gw diterima di UI itu jurusan Teknik Sipil via jalur SNMPTN  tahun 2019. Awalnya nih ya, Gw gak tau apa-apa samsek tentang teknil sipil dan has 0 interests wkwk. Ya iyalah, soalnya gw mulanya mau masuk ilmu komputer. Tapi karena saat pemeringkatan nilai rapor, nilai gw tidak aman, gw pi...

Djakarta

Parlez-vous français ?

Vous me voyez, Tous les jours, Je t'aime, Déjà vu, Hermès . Kata-kata itu sudah gak asing lagi didengar di tahun 2019. Tahu gak itu dari bahasa apa? Yap, bahasa Perancis. Bahasa internasional yang digunakan di seluruh belahan bumi sebelum masa kejayaan bahasa Inggris. Sekarang bahasa Perancis masih bahasa penting sih, tapi gak sepenting dulu. Bahasa Perancis saat ini merupakan salah satu bahasa resmi di PBB, UE (Uni Eropa), dan di banyak negara Eropa serta Afrika. Sudah sejak kelas 11 (2017 atau 2018) sebenarnya gw tertarik sama bahasa ini. Kenapa sih emangnya? Teman-teman sekolah pada nanya kenapa gw gak belajar bahasa Jerman atau Spanyol. Alasannya gak tahu juga ya. Suka aja gituh. Gw udah coba cari materi belajar dari perpustakaan, internet, dan teman gw, Faqih. Di perpustakaan sekolah ternyata gak ada. Cuman bahasa Inggris sama Jepang doang. Gw cari ke perpustakaan Depok, hasilnya 0 besar. Belum coba sih ke perpustakaan UI sama perpustakaan nasional. Lain kali aja. Akh...

Lapindo

Sekarang gw lagi enak-enak tidur telentang menantang lampu di langit-langit setelah hujan reda. Bau hujan yang baru reda suka membawa diri gw ke masa lalu, kilas balik. 13 tahun yang lalu gw masih belum masuk SD. Kerjaannya cuman nonton kartun, main keluyuran, sama nangis. Tapi ada peristiwa penting yang terjadi pas 13 tahun lalu. Coba tebak. Kalau jawab Banjir Lumpur Lapindo, selamat. Coba deh cari di Google, " Lumpur Lapindo 2019 ". Ternyata masih banyak berita up-to-date lho. Cuman saja memang sudah kalah tenar dengan berita-berita lainnya. Bagaimana ya rasanya jadi warga yang dibesarkan di sana? Kenangan masa kecil mereka ya sekarang berupa abu. Rumah dan tanah yang dulu dibanggakan sekarang lenyap. Mengadu tiada yang mendengar.

Da-di-da

Dilema Bahasa Pemersatu

Penggunaan Bahasa Indonesia sudah sangat lazim di kota-kota besar. Walau tidak dalam bentuk bakunya, Bahasa Indonesia sudah mulai menjadi bahasa pilihan. 2018, sudah banyak anak yang tidak bisa berbahasa daerah karena tidak diajarkan orang tua. Sudah ada upaya pemerintah untuk memasukkan bahasa daerah ke kurikulum pendidikan, namun saya jujur saja hal ini tidak begitu efektif. Dari kelas 5 SD sampai saat ini kelas 11 SMA, saya masih belum mengerti Bahasa Sunda. Dilematis ya. Bahasa Indonesia ada sebagai pemersatu bangsa sekaligus pemusnah budaya.

SMANSA #eaa

Udah lama gak nulis blog yang  gajelas  ini. Udah selesai UN, terus dapet nilainya. Gak memuaskan amat sih, jauh dari ekspetasi. NEM gw cuman  36.45  v: Agak takut gw awalnya masuk ke Smansa, soalnya kan di Depok cuman bisa milih 2 sekolah, kalo di Smansa gak masuk, kan sayang-sayang pilihan satunya lagi. Ceritanya udah pengen daftar di PPDB online, tapi maunya siang. Pas abis sahur, gw cek  websitenya  dan liat pagunya. Sialan, masa pagunya setiap sekolah cuman 100 orang. Kan gila dah, gw gak mungkin bisa masuk. Nah akhirnya jam 3 sore, harapan gw sempet hilang, kenapa? Nem terendah yang diterima di Smansa itu  37.00 . Pengen kesel, marah, nangis, idk v: Nah, trus malemnya, Alhamdulillah udah dibenerin. Pagu Smansa jadi 268 orang. Sujud syukur gw v: Besok paginya abis sahur lagi, gw daftar barengan adek gw. Btw, NEM dia  27.00,  terus gak diterima di Bangor (SMPN 2 Depok). Di Bangor, NEM terendah yang diterima  27.50.  Nah, akhirny...

Mr. Anies Baswedan, Final Exam, SBK, and Study Tour

Akhirnya UAS udah selesai, hati pun tenang. Pelajaran UAS yang paling susah tuh, “Bahasa Sunda” !!! (Soalnya tinggal di Jabar). Bener-bener gak ngerti !!! Apalagi kan sekolah udah ada  CCTV -nya, tambah dag-dig-dug hati ini. Gak tau deh nilai UAS-nya berapa, tinggal tunggu hasilnya pas ngambil Raport nanti.  Oh, ya, kemarin beberapa bulan lalu, Menteri Pendidikan Indonesia,  Pak Anies Baswedan  dateng ke SMPN 1 Depok (=SHOKAT) !!! Buktinya :  KLIK DISINI Sumpah, itu seneng banget didatengin. Apalagi beliau datang nya hanya ke kelas 8A !!! Kelas gw tuhh !!! Kelas gw belom pernah foto bersama, sekalinya foto bersama, sama Pak Menteri Vrohh…!!! Ganti Topik, Praktek Seni Budaya kelompok gw dapet 92 !!! Peringkat ke dua di 8A !!! *PEACE !!! Kemarin tuh nari dan nyanyi Lir-Ilir dari Jawa Tengah. Oh, ya, yang diajar SBK sama Bu Yani di kelas 8 cuman kelas 8A dan 8B, sisanya sama guru lain. Bu Yani itu ngajarnya kelas 9. Dia itu guru yang sering ngasih tugas prakte...

Perpisahan Kelas 7.Fakhusguide

Wooo…. Seru banget kemarin hari Selasa, 24 Juni 2014 !!! Perpisahan di rumah Bu Herni, naek angkot 09™ ke mana gitu, trus disambung naek 72™. Nyampe di sono kita makan-makan dulu, sholat, trus maen game degh. Gak akan terlupakan oleh gw ! Kasihan deh yg gk ikut perpisahan, kan seru banget !! Terimakasih teman-temanku selama 1 tahun ini….

Culture Shoketh DEPOK !!!

DUAR BOMBASTIS BGT Udah brp lama yak gw pindah rumah ke Kota Depok !? Yang paling kaget tuoech mata pelajarannya. Kalo di jakarta ada yg namanya PLBJ ataw Pendidikan Lingkungan Budaya Jkt v: Nah di Depok ada namanya Prakarya sama BAHASA SUNDA !!!... Guru gueh bilangnya Basun di sekolah depok itueh masih level dasarrr bgtz.. tapi gw tetep gx bisa dah ngerjain huhuuu.. T_T nami abdi farhan. Abdi diajar di sakola SDN Depok Jaya 2. Abdi boga loba babaturan  anyar, aya nu awewe jeung lalaki. Coba tebaks naon hartina wkwkwkwk ! Itu kayaknya setara sama anak kelas 2 dech "-_-. Klo kelas 6 skrg itu ada imbuhan di tengah2 kata coba ... Terus bahasa Sundanya *jatoh* aja tuh beda-beda hhuftt..... X_X tergantung gimana jatohnya *hadeh Bahasa Sunda huruf vokalnya jg BUANYAK. A I U É O E EU Ada 7 ! Kalo huruf konsonannya lebih dikit kayaknya, kan huruf F=P hehe *PEACE. Itu É E sama EU beda loh bacanya ! Kalo É kayak émbér, kalo e kayak belang, kalo eu mirip e, tapi diayun gitoh kayak peuyeum *D...