Tenang, ini bukan interogasi polisi. Ini hanya satu pertanyaan kecil yang mungkin diam-diam Anda pikirkan tiap kali buka toko online, lihat story orang, atau mikirin soal masa depan.
Mari mulai dengan sesuatu yang sederhana. Bayangkan Anda akhirnya beli iPhone 17 Pro Max 2 TB Cosmic Orange yang sudah lama Anda incar. Yang Anda pikirkan mungkin adalah
- “Wah, enak nih buat kerja, render lebih kenceng, multitasking sat-set, rekam video gak takut habis memori, baterai awet, layar enak buat nonton.”
- “Ini kalau dipost di story pasti banyak yang reply: ‘anjay’, ‘spill dong harganya’, ‘gila naik kelas’, ‘boba tiga nih ye’.”
Jawab dengan jujur, yang mana yang lebih dulu muncul? Ini bukan soal benar atau salah, tapi siapa sebenarnya yang sedang Anda layani? Diri Anda sendiri, atau “penonton” di luar sana?
Kita geser ke hal yang lebih sensitif: pasangan. Mungkin Anda pernah (atau sedang) suka sama seseorang yang kalau jalan bareng dia, Anda bisa kebayang komentar orang “Gila, kok bisa sih dapetin dia?”
Coba Anda berhenti sebentar dan tanya ke diri sendiri. Kalau kalian tidak upload apa pun, tidak ada foto bareng, tidak ada story berdua, tidak ada teman yang tahu kalian jadian, Anda masih tetap se-semangat itu buat ngechat dia? Masih se-deg-degan itu saat lihat namanya muncul di notif? Kalau iya, Anda benar benar jatuh hati pada orangnya. Kalau tiba-tiba rasanya agak turun kalau semua itu dihapus, berarti Anda jatuh hati pada efek sosial dari “memiliki dia”.
Dan menurut saya pun hal itu tetap manusiawi. Kita tumbuh di dunia di mana status hubungan juga semacam badge.
Anda sedang duduk (atau rebahan) baca ini. Ada bagian dari Anda yang mungkin mulai merasa agak ketahuan. Ada momen kecil di mana Anda ingat:
- Barang yang dulu Anda kejar mati-matian, tapi setelah dibeli, Anda bingung kenapa rasanya kosong.
- Hubungan yang rasanya lebih seperti “proyek citra” daripada tempat pulang.
- Planning ambil jurusan kuliah atau karier yang Anda banggakan di depan orang tua, teman lama, atau mantan, daripada Anda nikmati tiap harinya.
Kalau Anda merasa sedikit tertusuk, bukan berarti Anda orang yang dangkal. Itu cuma berarti Anda jujur.
“Ingin dilihat” bukan berarti itu selalu buruk. Pengakuan bisa bikin kita kuat bertahan, apresiasi orang lain bisa jadi bensin yang mendorong kita terus belajar dan bekerja.
Masalahnya baru muncul ketika Anda mulai mengorbankan kesehatan, nilai pribadi, atau kebahagiaan sehari hari hanya demi mempertahankan image. Ketika Anda tidak lagi tahu “tanpa tepuk tangan, saya ini siapa?”
Tarik napas. Tanya sekali lagi, tanpa bercanda.
“Kalau dunia buta dan tuli terhadap apa yang saya miliki, apakah saya masih tetap mau ini?”
Kalau jawabannya “iya”, kejar. Kalau ragu, mungkin bukan keinginannya yang salah.
Mungkin yang perlu dirombak adalah untuk siapa, sebenarnya, Anda hidup.
Kodonkkk
ReplyDelete