Skip to main content

Posts

UI, U A A, DING DING PALALALA DING DING

L’Université d’Indonésie, notre université, la capitale du pays, blablablabla. Cuman bisa nerjemahin segitu doang wkwkwk. Btw, itu lagu Genderang UI  en fra nçais (80% yakin bener terjemahannya). Anak UI udah khatam lagu itu soalnya pas jadi maba wajib beut buat dihafalkan karena maba nanti bakal jadi padus pas wisudaan. Simbolis banget gak si? Jadi kayak regenerasi gitu, yang lama digantikan yang baru, dikumpulkan dalam satu tempat . Oiya, ini merupakan sebuah curcol dan  an appreciation post for myself karena udah diterima di UI! Isinya tentang pengalaman di masa awal diterima di FTUI. Ini post udah berdebu di draft soalnya males banget buat nulis beberapa bulan kebelakang. Gw diterima di UI itu jurusan Teknik Sipil via jalur SNMPTN  tahun 2019. Awalnya nih ya, Gw gak tau apa-apa samsek tentang teknil sipil dan has 0 interests wkwk. Ya iyalah, soalnya gw mulanya mau masuk ilmu komputer. Tapi karena saat pemeringkatan nilai rapor, nilai gw tidak aman, gw pi...

Djakarta

Parlez-vous français ?

Vous me voyez, Tous les jours, Je t'aime, Déjà vu, Hermès . Kata-kata itu sudah gak asing lagi didengar di tahun 2019. Tahu gak itu dari bahasa apa? Yap, bahasa Perancis. Bahasa internasional yang digunakan di seluruh belahan bumi sebelum masa kejayaan bahasa Inggris. Sekarang bahasa Perancis masih bahasa penting sih, tapi gak sepenting dulu. Bahasa Perancis saat ini merupakan salah satu bahasa resmi di PBB, UE (Uni Eropa), dan di banyak negara Eropa serta Afrika. Sudah sejak kelas 11 (2017 atau 2018) sebenarnya gw tertarik sama bahasa ini. Kenapa sih emangnya? Teman-teman sekolah pada nanya kenapa gw gak belajar bahasa Jerman atau Spanyol. Alasannya gak tahu juga ya. Suka aja gituh. Gw udah coba cari materi belajar dari perpustakaan, internet, dan teman gw, Faqih. Di perpustakaan sekolah ternyata gak ada. Cuman bahasa Inggris sama Jepang doang. Gw cari ke perpustakaan Depok, hasilnya 0 besar. Belum coba sih ke perpustakaan UI sama perpustakaan nasional. Lain kali aja. Akh...

Lapindo

Sekarang gw lagi enak-enak tidur telentang menantang lampu di langit-langit setelah hujan reda. Bau hujan yang baru reda suka membawa diri gw ke masa lalu, kilas balik. 13 tahun yang lalu gw masih belum masuk SD. Kerjaannya cuman nonton kartun, main keluyuran, sama nangis. Tapi ada peristiwa penting yang terjadi pas 13 tahun lalu. Coba tebak. Kalau jawab Banjir Lumpur Lapindo, selamat. Coba deh cari di Google, " Lumpur Lapindo 2019 ". Ternyata masih banyak berita up-to-date lho. Cuman saja memang sudah kalah tenar dengan berita-berita lainnya. Bagaimana ya rasanya jadi warga yang dibesarkan di sana? Kenangan masa kecil mereka ya sekarang berupa abu. Rumah dan tanah yang dulu dibanggakan sekarang lenyap. Mengadu tiada yang mendengar.

Da-di-da

Dilema Bahasa Pemersatu

Penggunaan Bahasa Indonesia sudah sangat lazim di kota-kota besar. Walau tidak dalam bentuk bakunya, Bahasa Indonesia sudah mulai menjadi bahasa pilihan. 2018, sudah banyak anak yang tidak bisa berbahasa daerah karena tidak diajarkan orang tua. Sudah ada upaya pemerintah untuk memasukkan bahasa daerah ke kurikulum pendidikan, namun saya jujur saja hal ini tidak begitu efektif. Dari kelas 5 SD sampai saat ini kelas 11 SMA, saya masih belum mengerti Bahasa Sunda. Dilematis ya. Bahasa Indonesia ada sebagai pemersatu bangsa sekaligus pemusnah budaya.